Rabu, 29 Agustus 2012

Terima Duit dari Mirwan? Tina Talisa Menjawab

TEMPO.CO, Jakarta - Jurnalis dan pembawa berita televisi Indosiar, Tina Talisa, membantah tudingan menerima duit dari kakak ipar yang juga mantan pemimpin Badan Anggaran DPR, Mirwan Amir. Tina disebut menerima beberapa kali kiriman duit dari rekening Mirwan senilai hampir Rp 120 juta dari bulan Mei-Juni 2011.

"Tidak ada transfer dana seperti yang disebutkan dengan total Rp 120 juta pada pertengahan 2011, pun tidak ada transfer dalam jumlah apa pun, kapan pun, ke rekening saya yang mana pun dari MA (Mirwan Amir)," kata Tina saat bertemu Tempo di sebuah kafe di Senayan City, Jakarta Selatan, Rabu, 29 Agustus 2012.

Tina, yang didampingi Pemimpin Redaksi Indosiar Nurjaman Mochtar, menunjukkan bukti beberapa lembar rekam transaksi di empat rekeningnya, Bank Mandiri, BCA, HSBC, dan Bank Mega.

Dalam rekam transaksi itu, terdapat dua transaksi yang sesuai dengan yang disebutkan sumber Tempo. Namun Tina membantah bahwa duit itu berasal dari Mirwan Amir.

Transaksi pertama itu diakui Tina berasal dari perpindahan uang dari satu rekeningnya ke rekening dia yang lain. Kemudian ada transaksi kedua, diakui Tina dari sang suami, Aminur Okta Jaya, untuk biaya pernikahan mereka.

Tina yang mengenakan blazer dan rok sepanjang lutut warna hitam ini mengaku cukup direpotkan dengan berita ini. Sebab, dia harus mondar-mandir ke empat bank tersebut untuk meminta rekam transaksi demi membuktikan bantahan berita yang memojokkan dirinya.

"Saya mulai meminta rekam transaksi ini sejak Senin lalu, tapi baru selesai semua hari ini," kata dia.

Sebab, kata dia, untuk membantah tudingan ini bukan dengan opini, tapi dengan fakta. "Kalau saya berbuih bilang tidak ada tapi tidak pegang datanya, itu hanya opini dan bantahan," kata dia.

Menurut penelusuran Tempo, Mirwan Amir terdeteksi melakukan transfer dengan adik iparnya, Tina Talisa. Jumlah uang Mirwan yang mengalir ke Tina Talisa mencapai Rp 116 juta.

Pertama, pada 19 Mei 2011, Mirwan mentransfer duit Rp 25 juta pada Tina. Kemudian pada 23 Mei, Mirwan kembali mentransfer Rp 10 juta. Pada 3 Juni, Mirwan mentransfer dengan jumlah lebih banyak, Rp 75 juta. Terakhir pada 17 Juni, Mirwan kembali mentransfer Rp 6 juta. Semua transfer duit dari Mirwan pada Tina terjadi sebelum mantan presenter televisi swasta ini resmi dipersunting oleh Okta pada Juli 2011.

Tina Talisa Sudah Menduga Dikaitkan dengan Mirwan

TEMPO.CO, Jakarta -- Pembawa berita televisi, Tina Talisa, sudah menduga bakal dikaitkan dengan kasus dugaan aliran dana korupsi ke mantan pimpinan Badan Anggaran DPR RI Mirwan Amir. Tina menuturkan, mulanya ia menerima sebuah pesan (mention) dari jejaring sosial Twitter ihwal keterkaitannya dengan Mirwan Amir.

Pesan yang dibaca pada Jumat, 24 Agustus lalu itu, kata Tina, tidak secara jelas menyebutkan nama dirinya. "Dia (pemilik akun @billykompas) hanya menuliskan presenter cantik dan bohai," ujar Tina saat ditemui Tempo, Rabu, 29 Agustus 2012, di kawasan Senayan, Jakarta Selatan.

Namun Tina sudah menduga bila pesan tersebut tertuju padanya. Benar saja dugaannya. Esok harinya sebuah media online sudah mengangkat berita tersebut. "Tapi belum ada nama saya dalam berita itu," katanya.

Tina membantah menerima uang dari Mirwan Amir yang merupkan kakak iparnya. Sebelumnya, Tina disebut-sebut telah menerima kiriman uang dari rekening Mirwan senilai hampir Rp 120 juta selama periode Mei-Juni 2011.

Wawancara Tina Talisa: Seperti Tsunami bagi Saya

TEMPO.CO, Jakarta -- Jurnalis dan pembawa berita televisi Indosiar, Tina Talisa, akhirnya angkat bicara soal tudingan menerima aliran duit dari mantan anggota Badan Anggaran DPR yang juga kakak iparnya, Mirwan Amir.

Tina, didampingi Pemimpin Redaksi Indosiar Nurjaman Mochtar, bersedia menemui Tempo di sebuah kafe di Senayan City, Jakarta Selatan, Rabu, 29 Agustus 2012. Mengenakan blazer dan rok hitam selutut, Tina begitu ramah menerima wawancara Tempo.

Bagaimana awal mula tudingan ini?
Saya menduga akan ada berita ini sejak Jumat, 24 Agustus 2012, di Twitter. Saya tak mengikuti isi akun Twitter, tapi saya di-mention. Tidak disebutkan nama, tapi cuma presenter cantik dan bohai. Besoknya, sudah masuk ke berita online. Meski belum ada nama, saya menduga mengarah ke saya.

Apa reaksi Anda setelah mendengar berita itu?
Begitu berita muncul, jujur, seperti bom, seperti tsunami bagi saya. Tidak ada angin, tidak ada hujan, saya tidak pernah tahu dan tidak terlibat apa-apa, tiba-tiba disebut terima uang dugaan korupsi mantan pimpinan Banggar.

Apa yang Anda lakukan?
Senin, saya putuskan mengecek rekening. Jumlah yang disebut total Rp 120 juta dengan waktu pertengahan 2011, maka saya harus rujuk data keuangan saya tahun lalu. Saya punya rekening di empat bank. Bank Mandiri saya baru buka pada 2011. Lainnya BCA, HSBC, Mega.

Ada transfer yang terpecah senilai total Rp 120 juta itu?
Saya sudah bilang, tidak ada transfer dana dengan total Rp 120 juta pada pertengahan 2011. Pun tidak ada transfer dalam jumlah apa pun, kapan pun, ke rekening saya yang mana pun dari Mirwan Amir. Setelah menikah, kalau saya ditransfer Rp 1 miliar pun, apa salahnya? Kan saya istrinya, dia menafkahi saya dengan uang dari perusahaannya sendiri.

Bagaimana dengan mobil yang dikabarkan dibeli Mirwan atas nama suami Anda, Amrinur Okta Jaya?
Saat saya pertama menikah, suami saya cuma punya satu mobil. Sampai sekarang, dia cuma satu mobil, yang saya pakai juga. Dari rentetan cerita saat beli mobil itu, saya belum menikah, jadi sama sekali tidak tahu.

Suami Anda stres?
Iyalah istrinya dituduh seperti ini. Dia sempat tanya, apa uang yang saya kirim, ya? Emang kenapa kalau uang yang saya kirim kan dari uang saya, bukan uang dari abang.

Selasa, 28 Agustus 2012

Anak Dotcom Pindah Status, Cuy

Setelah karyawan-karyawan Divisi GA SCTV dioutsourcing, sekarang karyawan-karyawan website Liputan 6 SCTV mendapat giliran. Gak main-main, mereka dipindahkan ke perusahaan baru yang kata penggede di dotcom itu masih anak perusahaan Grup EMTK. Artinya, status kepegawaian mereka pun berubah dari karyawan SCTV menjadi karyawan perusahaan baru itu.

Take it or leave it! Itu kata Kepala HRD SCTV pas rapat dengan anak-anak website. Gue gak punya pilihan. Mau gak mau harus ikut. Gue cuma mendapat kompensasi akan dicatatkan masa kerja gue di perusahaan baru. Ada juga karyawan yang beruntung, yang kemarin statusnya outsourcing dijanjikan akan menjadi karyawan tetap di perusahaan baru.

Di struktur perusahaan yang baru itu juga akan membawa dua wartawan senior Liputan 6. Entah bagaimana juga penyesuaian posisi dan gaji yang bakal didapat. Karena,  produser itu justru ditempatkan di bawah koordinasi staf lain yang sebelumnya disinyalir memiliki kualitas dan gaji lebih sedikit.

Penyebaran SDM juga aneh. Latar belakang pendidikan, prestasi dan pengalaman gak diperhitungkan. Di jajaran redaktur, ada anak D-3 dengan pengalaman kewartawanan yang sebentar tapi sejajar dengan produser Liputan 6. Ini kan aneh.

Di perusahaan baru itu, mereka akan menempati kantor di daerah Gondangdia, Jakarta Selatan. Jadi, terpisah dan jauh dari kantor lama. Maklumlah, kita kan bukan orang SCTV lagi. Cuma dibilangnya, bekerja buat SCTV.

Meski banyak cerita-cerita miring yang bikin bulu kuduk merinding, teman-teman tetap bekerja. Gak tahu setengah hati atau pura-pura senang. Yang senang barangkali yang mendapatkan jabatan baru, meski mengorbankan nama besar SCTV.

Kalo kata orang SP SCTV, anak-anak dotcom itu lebih beruntung dibandingkan dirinya yang dipaksa dioutsoucing. Bayangkan nasib yang dialami 150 karyawan yang sudah memakai seragam ISS dan 42 yang menuntut keadilan. Ini lebih halus dan cantik. Padahal sih sama saja nasibnya.

Tapi jauh sebelum keputusan pemindahan status dan segala persoalan dotcom itu terjadi sebenarnya di luar sudah ramai terdengar soal isu outsourcing terhadap karyawan Liputan 6 SCTV, termasuk juga anak-anak dotcom. Kabar miring itu bukan cuma dibahas karyawan-karyawan SCTV tapi juga wartawan-wartawan lain. Jadi, keputusan yang diterimanya sudah bukan barang aneh lagi.

Sudah nasib kita, kalee. Kita seneng-senengin aja. Daripada stres mau lebaran gini? Lagian, gue kan udah pengalaman dipake main kayak gini. Dulu pas gue gabung aja cuma karyawan kontrakan. Setelah diangkat juga lebih ngerasa jadi anak tiri karena gak dapat banyak perhatian kayak orang Liputan 6 lain. Kalo sekarang pindah kandang, ya dibikin asyik aja.

Orang-orang di Liputan 6 juga banyak bergunjing soal isu outsourcing dan pensiun dini. Kabar yang beredar dari lantai 9 SCTV Tower di dekat mall Senayan City, karyawan berusia 45 tahun ke atas bakal kena TO. Jadi mereka bakal siap-siap dipendikan. Karena tidak secara serentak, para boss di Liputan 6 pun bakal main tebang pilih.

Produser senior di tempat itu pernah bilang, Nurjaman dan Merdi Sofansyah itu diundang dari TVONE ke SCTV memang buat membersihkan musuh-musuh lama. Dulu si Nurjaman itu digulingkan teman-teman dan sama si Rossi dibuang ke website. Sekarang dia datang lagi dengan gaji besar buat balas dendam. Merdi itu tukang pukulnya yang baru. Termasuk juga Putut Trihusodo, orang cetak yang juga titipan dari PDI Perjuangan.

Wah, jadi rame Liputan 6. Ternyata kantor itu bukan cuma pinter bikin berita tapi juga mainin nasib karyawannya. Kabarnya, bukan cuma karyawan website yang akan dioutsourcing tapi semua bagian. Atau sedikitnya Liputan 6 itu bakal dijadiin anak perusahaan EMTK mirip anak-anak dotcom.

Targetnya, SCTV Cuma punya 500 karyawan tahun depan nanti.

Tina Talisa Tak Tahu Soal Mobil Baru Mirwan Amir

TEMPO.CO , Jakarta - Tina Talisa, jurnalis dan pembawa berita Televisi Indosiar mengaku tak tahu-menahu soal tudingan tiga mobil mewah yang dibeli kakak iparnya, Mirwan Amir yang diatasnamakan suami Tina, Amrinur Okta Jaya.

"Saya sama sekali tidak tahu," kata Tina dalam pertemuan dengan Tempo di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, Rabu 29 Agustus 2012.

Menurut Sumber Tempo, tiga mobil mewah dengan tipe BMW X3, Mercedes Benz C-200, dan Range Rover itu dibeli dari akhir tahun 2010 hingga awal tahun 2011.

Tina mengatakan ketidak-tahuan dia dikarenakan pembelian ketiga mobil mewah itu terjadi sebelum dia menikah dengan Okta. Tina baru menikah dengan adik Mirwan Amir pada Juli 2011.

"Tidak ada mobil-mobil yang disebutkan itu. Coba tanya Mas Mirwan deh," kata mantan finalis Puteri Indonesia tahun 2003 ini.

Tina mengaku sejak menikah mobil yang dimiliki sang suami cuma satu, yakni Toyota Vellfire. Mobil itu pun masih digunakan hingga sekarang.

Dari penelusuran, Tempo mendapatkan data pembelian mobil oleh Mirwan yang diatasnamakan adik kandungnya, Okta. Pertama pada Januari 2011, Mirwan membeli mobil Range Roover senilai Rp 2,1 Miliar secara cash lewat perusahaan leasing PT Astra Sedayu Finance (ASF).

Kedua, pada Oktober 2010, Mirwan membeli mobil Mercedes C-Class 200 senilai Rp 575 juta di Kiki Auto Galery. Pembelian mobil mewah ini juga lewat perusahaan leasing PT ASF. Ketiga, pada November 2009, Mirwan kembali membeli mobil BMW X3 senilai Rp 570 juta yang ditangani PT Staco Estika Sedayu Finance.

Mirwan: Saya Tak Ada Transaksi dengan Tina Talisa

TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Wakil Ketua Badan Anggaran DPR, Mirwan Amir, membantah pernah berurusan dengan adik iparnya, presenter Indosiar, Tina Talisa, soal keuangan. Termasuk transfer uang sebesar Rp 116 juta kepada Tina Talisa.

"Saya sudah katakan saya tidak pernah berurusan dengan Tina, apalagi ada transaksi," kata Mirwan kepada Tempo melalui pesan singkat, Rabu, 29 Agustus 2012.

Menurut Mirwan, kalau ada orang yang menyebut dirinya ada transaksi keuangan dengan Tina, itu sama sekali tidak benar. "Jadi sangat fitnah yang memberi informasi itu," katanya.

Seperti diketahui, Mirwan disebut-sebut pernah mentransfer uang sebanyak lima kali kepada Tina pada Mei hingga Juni 2011 lalu. Besaran nilai yang ditransfer berbeda-beda. Selain uang, Mirwan juga disebut sempat membeli tiga mobil mewah yang semuanya diatasnamakan Okta, suami Tina.

Transaksi ini diendus PPATK dan laporannya adalah bagian dari 18 laporan temuan yang dikirim PPATK ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Sumber Tempo menyebutkan laporan PPATK tersebut di dalamnya terdiri atas transaksi mencurigakan milik sepuluh anggota Badan Anggaran DPR.

Satu nama di antaranya adalah mantan pimpinan Badan Anggaran dari Partai Demokrat, Mirwan Amir. Diduga transaksi mencurigakan pada rekening milik Mirwan tersebut terkait dengan kasus Angelina Sondakh, mantan Wakil Sekjen Partai Demokrat yang kini tersangkut sejumlah kasus korupsi.

Senin, 27 Agustus 2012

Karyawan Merayakan Pengunduran Diri Kepala HRD SCTV

Selama gue gabung di SCTV selama sepuluh tahun ini belum pernah ngeliat atawa ngedenger kalo karyawan begitu bergembira dan bersuka ria waktu ngebaca surat pengunduran diri Kepala HRD SCTV yang namanya Immanuel Soeiono. Obrolan di kantin, warung, gang-gang, musholla sampe tempat parkir gak lepas dari soal yang satu itu.
 
Mereka bersyukur karna biang kezhaliman sekaligus biang kekacauan nasib puluhan karyawan SCTV sudah dilengserkan. Meski iNoel bilang mundur, karyawan-karyawan tetap yakin kalo dia itu dilengserkan. Mereka juga coba nebak-nebak manggis soal pelengseran itu. Tapi, gue sih punya catatan sendiri:
 
1. iNoel itu jago banget buat ngacak-ngacak pembagian bonus dan pemandegan gaji karyawan. Dia lihai memainkan rumus-rumus pabrik dan mendokrin para menejer karbitan buat patuh ngejalanin rumus-rumusnya. Hasilnya, dua taon ini karyawan makin resah.
 
2. iNoel itu juga jago banget buat urusan ngerancang hukuman buat karyawan-karyawan yang jadi TO. Biar gak kena sasaran, staf-staf carmukan kayak Fauzan Muslim atawa Widodo dijadiin pelor. Gak heran, dua taon ini isu pemaksaan pendi makin rame dan bikin karyawan tuwir pada belingsatan.
 
3. iNoel itu juga dalang dalam pengalihan status 150 orang staf GA dari karyawan tetap SCTV menjadi karyawan outsourcing di bawah ISS. Dia pintar memainkan intimidasi, tekanan-tekanan, ancaman dan menjadikan trio kwek-kwek Widodo, Fauzan dan Joko sebagai pelor. Buntutnya, 45 orang karyawan berontak dan 42 orang diantaranya terus bakal ngelabrak.
 
4. iNoel itu biang yang bikin SCTV gak menghargai Komnas HAM, nyoba nyogok staf Dinas Tenaga Kerja Jakpus, nyoba nyogok pengacara Aspek dan bikin mediasi selalu ketemu jalan buntu.
 
5. iNoel yang jadi biang keladi wafatnya putra salah satu staf GA yang sekarang diskorsing lantaran ikut nolak kebijakan pengalihan status itu. Atas perintahnya, staf HRD menutup semua akses dan asuransi kesehatan karyawan-karywan yang diskorsing.
 
Akhir cerita, mustahil juga ulah iNoel gak diketahui dan direstui pemilik SCTV. Jangan-jangan pengunduran dirinya cuma akal-akalan buat meredam ancaman demo buruh sejabotabek bulan depan? Atau cuma alasan pemilik SCTV buat cuci tangan. Ah, pokoknya ane mau gembira dulu.